Bikin Iba, Kisah Seorang Bocah Kecil berjualan Sayur Hingga Kelelahan, Banyak netizen menangis melihatnya

  • Share

Dalam foto yang diposting, tampak seorang anak ,kelelahan berjualan habis pulang sekolah.

Tasnya ditaruh tepat di sampingnya. Di hadapannya, ada sekotak makanan ringan. Menurut keterangan yang ditulis, anak ini berjualan di sebuah kampus ternama di Jakarta.

Dek, waktu aku seumur kamu kalau sepulang sekolah itu langsung istirahat dan tidur siang lho. Padahal sekolah aku waktu itu deket banget dari rumah, dan rasanya pengen buru-buru pulang ke rumah,apalagi kalau cuaca lagi terik.

Dek, waktu aku seusia kamu alhamdulillah nasib aku lebih baik dari kamu. Kasian kamu dek, seharusnya seusia kamu sepulang sekolah itu makan,istirahat dan ngerjain PR.

Demi diri dan keluarga anak-anak mencari uang dan meninggalkan bangku sekolah. Itu bukan hal langka di negeri ini, termasuk di Sulawesi Utara.

RABU (4/3) malam pekan lalu, udara dingin bercampur gerimis. Semua pengunjung di satu pusat pertokoan di Airmadidi, memakai payung atau jaket. Kecuali seorang bocah berusia 8 tahun.

Ia hanya memakai kameja yang dua kancing atasnya terbuka, serta celana pendek lusuh. Namanya Jonathan. Ia bekerja sebagai petugas parkir di pertokoan itu.

Saat meminta uang pada pengguna parkir, terdengar suaranya yang kecil serta parau. Rupanya ia terkena pilek. Wajahnya yang imut memicu rasa kasihan, sehingga pengguna parkir yang membayar Rp 5.000 kadang tidak meminta uang kembalian. “Uang parkir Rp 2.000,” kata dia.

Kepada Tribun Manado, Jonathan mengaku hanya sementara menggantikan kakaknya yang bertugas menjaga parkiran itu. “Kakak ada urusan di Bitung, saya disuruh menggantikannya,” kata dia.

Biasanya jika si kakak ada urusan, ia bisa bekerja hingga empat jam. Namun, kali itu hanya dua jam, karena sang kakak pergi tak lama.

“Ia katakan pergi tak lama,” katanya.

Dalam sebulan, bocah berkulit legam ini mengaku melakoni pekerjaan orang dewasa itu sebanyak empat hingga lima kali. Hal itu dilakukannya sepulang sekolah. Sesungguhnya, ia tidak terlalu sreg dengan pekerjaan itu.

Sering kepanasan dan kehujanan, ia pun sering mengalami tindakan yang kurang sopan dari pengguna parkir. “Ada yang tidak bayar,” ujarnya.

Satu-satunya yang membuat bocah ini bertahan adalah kesempatan mendapat uang. Sulitnya keluarga mereka mencari uang, rupanya mengetuk hati bocah ini. “Uang yang saya dapat bisa bisa buat jajan serta tambah biaya sekolah,” kata dia.

Nasib lebih tragis dialami Del serta Yomi, dua bocah asal Tuminting. Del yang masih berumur delapan tahun serta Yomi enam tahun mengaku pernah jadi buruh saat pembangunan kios di salah satu pasar.

Saat ditemui Tribun Manado di Taman Kesatuan Bangsa, kawasan Pasar 45 Manado, akhir pekan lalu, keduanya sibuk meminta-minta pada pengunjung TKB. Akan digunakan untuk apa uang itu, pengakuan keduanya berbeda. “Tentu saja untuk makan,” ujar Del. Adapun Yomi mengaku uang itu akan disetor ke seseorang.

Keduanya dengan bersemangat bercerita saat turut membangun kios di pasar itu. Del mengaku mengangkat kayu, sedang Yomi pasir.

“Kami dapat Rp 50 ribu satu hari,” kata Yomi yang dibenarkan Del.

Semangat itu meredup saat mereka menceritakan kondisi keluarga masing-masing. Kepahitan terpancar di wajah Del. “Mama dan papa pergi ke Makasar, tinggal saya sendiri di rumah,” ujarnya.

Del mengaku terpaksa mengerjakan sendiri pekerjaan rumah seperti memasak. Jika anak sebayanya lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah serta rumah, Del menghabiskan separuh waktunya di jalanan. Dilakoninya dua dunia sekaligus, yakni bekerja sembari bermain.

“Saya sudah putus sekolah,” kata dia.

Yomi yang juga sudah putus sekolah mengaku ingin kembali bersekolah. Ia masih mengenang masa-masa ketika ia masih mengenakan seragam putih merah dulu. “Tapi papa tidak punya uang,” kata dia lirih. (tribun manado/arthur rompis)

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − nine =