Bosan Dijanji Pemerintah, Lelaki Ini Kerjakan Sendiri Jalan di Kampungnya 2 KM, Pakai Alat Seadanya

  • Share

Sungguh Lelaki Ini layak mendapat pujian dan sanjungan karena dedikasinya untuk warga.

Bosan dan lelah Dijanji Pemerintah setempat, Ia memilih Kerjakan Sendiri Jalan di Kampungnya Sejauh 2 Kilometer.

Pria ini pun mendapat gelar pahlawan dari warga desa tempat ia tinggal setelah berinisiatif membangun jalan sendiri.

Ialah seorang pria berusia 46 tahun asal Kenya bernama Nicholas Muchami.

Dilansir Sosok.ID dari Oddity Central, sosoknya menjadi pembicaraan pada April 2019 lalu setelah ia membangun jalan sepanjang 1 mil di desanya.

Lelah dijanji, Pria ini bangun jalan desa sendiri setelah keluhannya tak ditanggapi pemerintah. (screenshot inoora.tv)
Warga Desa Kaganda, yang terletak sekitar 80 km dari ibu kota Kenya, Nairobi, itu sudah sejak lama mengadu ke pemerintah setempat

Hal itu untuk membangun jalan pintas menuju pusat perbelanjaan terdekat.

Namun, pemerintah selalu saja menunda pembangunan jalan yang sangat penting untuk warga itu.

Sebelumnya warga memiliki jalan pintas untuk menuju pusat perbelanjaan itu.

Tetapi, jalan itu kemudian ditutup karena merupakan properti pribadi.

Karena ditutup, warga desa pun harus memutar jalan lain sepanjang 4 km setiap harinya untuk pergi ke pusat perbelanjaan.

Melihat hal itu, Nicholas pun memutuskan untuk membuat jalan sendiri.

Pekerja serabutan itu merelakan waktunya untuk menggali jalan sepanjang 2 km secara suka rela.

Tak menggunakan alat-alat canggih, hanya dengan bermodalkan peralatan bertani,

Nicholas membangun jalan mulai dari pukul 07.00 pagi sampai 17.00 sore setiap harinya.

“Saya telah mengemis-negemis kepada pemerintah setempat untuk membangun jalan tetapi semuanya sia-sia,” kata Nicholas kepada Daily Nation.

“Saat itulah saya memutuskan untuk membangunnya menggunakan alat pertanian milik saya demi wanita dan anak-anak agar mereka bisa menghemat waktu.”

Demi membangun jalan itu, Nicholas bahkan rela berhenti mencari nafkah untuk sementara waktu.

“Kami berhutang banyak padanya,” kata seorang warga desa, Josephine Wirimu (68).

Nicholas sendiri melakukan pekerjaan itu secara suka rela alias gratis.

“Ketika saya sedang bekerja di jalan, orang-orang bertanya kepada saya, ‘Apakah kamu dibayar?’.”

Berkat jasanya itu, Nicholas mendapat gelar pahlawan.

Sosoknya langsung menjadi viral setelah enam hari berturut-turut membangun jalan tersebut.

Sayangnya tidak ada informasi terbaru terkait bagaimana keadaan jalan itu saat ini.

Warga Kerja Bakti Bangun Jalan

Kejadian serupa juga terjadi di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah Bagian Barat Bulukumba, kelurahan Na’na Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.

Selama ini, daerah ini luput dari perhatian pemerintah. Sejak Indonesia merdeka, jalanan ke daerah Na’na belum pernah dilirik pemerintah untuk perbaikan jalan.

Dikutip dari kabarnusantaranews.com, daerah ujung bagian barat Bulukumba perbatasan Bantaeng yang merupakan daerah pegunungan dan dihuni sekitar dua ratus kepala keluarga.

Lama tak ada akses jalan, warga berinisiatif kerja bakti dengan cara gotong royong untuk membuat jalan pintas menggunakan alat seadanya, seperti cangkul,skop dan linggis.

Tak tanggung-tanggung, dalam waktu 2 minggu warga sudah mengerjakan kurang lebih dari 100 meter.

“Kita lakukan kerja bakti membuat jalan pintas dari Na’na ke lingkungan sengkaan itu untuk memudahkan dan mendekatkan anak sekolah jalan kaki.”ungkap Hamzah warga Na’na inisiator kerja bakti perintasan jalan pintas itu, Jumat.(20/9/2019)

“Sebab jika tidak membuat jalan pintas, anak sekolah selama ini berjalan kaki sepanjang 7 Km.” Jelasnya

Ia menganggap Gotong royong ini dilakukan juga sebagai krikitikan kepada pemerintah, bahwa selama ini pemangku kekuasaan hanya janji janji palsu yang sampai hari ini belum ada terealisasi.

“Semoga dengan langkah yang kami ambil, pemerintah bisa malu, bahwa kami capek di janji pemerintah dan kami sebagai warga yang puluhan tahun terbiasa menderita, bisa membuat jalan dengan cara manual dan gotong royong.”Cetusnya

Lanjut Hamza menerangkan, harusnya pemerintah Bulukumba saat ini memberikan kami perhatian agar bisa merasakan apa yang dirasaka orang di luar sana.

Menurutnya, selama puluhan tahun belum pernah merasakan namanya jalanan aspal, cuman di janji janji terus oleh pemerintah akan di bikinkan jalanan aspal.

Padahal, kata dia, jika jalanan baik dari kelurahan ke Na,na, bisa meningkatkan perekonomian rakyat.

“Kami disini kesulitan membawah hasil bumi ke kota, karna jarak tempuhnya jauh, dimana lagi jalanan susah, sehingga terkadang di musim hujan harus berjalan kaki jika hendak membawah hasil bumi di jual di kota.”Tutupnya.

 

Sumber Artikel;  jumatsabtu .com/archives/10383

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

four × five =